MAKALAH
Memenuhi Kebutuhan Dasar Rasa Aman Dan Nyaman
Disusun Oleh:
Dicky Sukma Wijaya
KHGA17087
D-III Keperawatan
STIKes Karsa Husada Garut
2017/2018
Dicky Sukma Wijaya
KHGA17087
D-III Keperawatan
STIKes Karsa Husada Garut
2017/2018
KATA PENGANTAR
Dengan
menyebut nama Allah SWT yang Maha Pengasih lagi Maha Panyayang, Kami panjatkan
puja dan puji syukur atas kehadirat-Nya, yang telah melimpahkan rahmat,
hidayah, dan inayah-Nya kepada kami, sehingga kami dapat menyelesaikan makalah ini
tentang Rasa Aman dan Nyaman.
Makalah
ilmiah ini telah kami susun dengan maksimal dan mendapatkan bantuan dari
berbagai pihak sehingga dapat memperlancar pembuatan makalah ini. Untuk itu
kami menyampaikan banyak terima kasih kepada semua pihak yang telah
berkontribusi dalam pembuatan makalah ini.
Terlepas
dari semua itu, Kami menyadari sepenuhnya bahwa masih ada kekurangan baik dari
segi susunan kalimat maupun tata bahasanya. Oleh karena itu dengan tangan
terbuka kami menerima segala saran dan kritik dari pembaca agar kami dapat
memperbaiki makalah ilmiah ini.
Akhir kata
kami berharap semoga makalah ilmiah tentang limbah dan manfaatnya untuk
masyarakan ini dapat memberikan manfaat maupun inpirasi terhadap pembaca.
Garut, 20 Mei 2018
( Penyusun )
BAB I
PENDAHULUAN
Perkembangan pendidikan saat ini meningkat dengan pesat
sebagai konsekuensi dari logis globalisasi. Perkembangan pendidikan keperawatan
hendaknya tidak hanya berupa peningkatan kuantitas semata,namun harus di ikuti
dengan peningkatan kualitas pendidikan. Dengan demikian akan di hasilkan
perawat yang professional dan siap berkompotisi dengan tenaga kesehatan lain,
baik di tingkat nasional atau internasonal.
Dalam memberikan pelayanan keperawatan kepada individu,
keluarga, atau komunitas,perawat sangat memerlukan etika keperawatan. Karena
itu,focus dari etika keperawatan di tujukan terhadap sifat manusia yang unik.
Perawat juga membutuhkan norma dan budaya dalam asuhan
keperawatan pemenuhan kebutuhan rasa aman dan nyaman pada pasien.
1. Apa
pengertian etika keperawatan ?
2. Apa
saja prinsip-prinsip dalam etika keperawatn ?
3. Apa
Pengertian norma dan budaya ?
4. Apa
saja macam-macam pemenuhan rasa aman ?
5. Apa
saja macam-macam pemenuhan rasa nyaman ?
1. Mengetahui pengertian keperawatan.
2. Mengetahui prinsip-prinsip dalam
etika keperawatan.
3. Mengetahui pengertian norma dan
budaya.
4. Mengetahui macam-macam pemenuhan
rasa aman.
5. Mengetahui macam-macam pemenuhan
rasa nyaman.
BAB
II
PEMBAHASAN
Etika berasal
dari bahasa Yunani Kuno, ’ethos’ yang berarti kebiasaan/adat istiadat, akhlak,
watak, perasaan, sikap, dan cara berfikir.
Kata ’etika’ dalam Kamus besar Bahasa
Indonesia mempunyai arti :
1. Ilmu tentang
apa yang baik dan apa yang buruk dan tentang hak dan kewajiban moral (akhlak);
2. Kumpulan asas
atau nilai yang berkenaan dengan akhlak;
3. Nilai mengenai
benar dan salah suatu golongan atau masyarakat.
Etika Keperawatan yaitu
norma yang dianut oleh perawat dalam bertingkah laku dengan klien, keluarga,
kolega atau tenaga kesehatan lainnya disuatu pelayanan kesehatan lainnya
disuatu pelayanan keperawatan yang bersifat profesional.
B.
Prinsip-Prinsip Etika Keperawatan
1. Otonomi (Autonomy/Self Determination)
1. Otonomi (Autonomy/Self Determination)
Prinsip otonomi didasarkan pada hak seseorang untuk
membuat keputusan sendiri. Orang dewasa dianggap kompeten dan memiliki kekuatan
membuat sendiri, memilih dan memiliki berbagai keputusan atau pilihan yang
harus dihargai oleh orang lain. Prinsip otonomi merupakan bentuk respek
terhadap seseorang, atau dipandang sebagai persetujuan tidak memaksa dan
bertindak secara rasional. Otonomi merupakan hak kemandirian dan kebebasan
individu yang menuntut pembedaan diri. Praktek profesional merefleksikan
otonomi saat perawat menghargai hak-hak klien dalam membuat keputusan tentang
perawatan dirinya.
2. Berbuat baik (Beneficience)
Berbuat baik berarti hanya melakukan sesuatu
yang baik. Prinsip ini berkaitan dengan kewajiban melakukan yang terbaik dan
tidak merugikan orang lain.
Tenaga
kesehatan dalam memberikan asuhan keperawatan senantiasa memberikan yang
terbaik sehingga anggota profesi selalu bersikap untuk meningkatkan mutu yang
lebih baik dalam memberikan pelayanan.
3. Keadilan (Justice)
Prinsip keadilan dibutuhkan untuk terapi yang sama dan
adil terhadap orang lain yang menjunjung prinsip-prinsip moral, legal dan
kemanusiaan. Nilai ini direfleksikan dalam prkatek profesional ketika perawat
bekerja untuk terapi yang benar sesuai hukum, standar praktek dan keyakinan
yang benar untuk memperoleh kualitas pelayanan kesehatan.
4. Tidak Merugikan
(Nonmaleficience)
Prinsip ini berarti tidak menimbulkan bahaya/cedera fisik
dan psikologis pada klien. Mengerjakan sesuatu dengan teliti, hati-hati,
cermat, dan tidak sembarangan.
5. Jujur (Veracity/Truth
Telling)
Prinsip ini berkaitan dengan kewajiban untuk menyampaikan
atau mengatakan sesuatu yang benar, tidak berbohong apalagi menipu. Perawat
menerapkan prinsip ini selalu berbicara benar, terbuka dan dapat dipercaya.
6. Komitment (Fedelity/Keeping
Promise)
Prinsip ini berkaitan dengan kewajiban untuk setia, loyal
dengan kesepakatan atau tanggung jawab yang diemban. Perawat akan
bertanggungjawab sungguh-sungguh terhadap tugas yang diembannya.
Norma adalah aturan-aturan atau pedoman sosial yang
khusus mengenai tingkah laku, sikap, perbuatan yang boleh dilakukan atau tidak
boleh dilakukan di lingkungan kehidupannya.
Budaya adalah suatu cara hidup yang berkembang, dan
dimiliki bersama oleh sebuah kelompok orang, dan diwariskan dari generasi ke
generasi. Budaya terbentuk dari banyak unsur yang rumit, termasuk sistem agama
dan politik, adat istiadat, bahasa, perkakas, pakaian, bangunan, dan karya
seni.
Budaya mempunyai pengaruh luas terhadap kehidupan
individu . Oleh sebab itu , penting bagi perawat mengenal latar belakang budaya
orang yang dirawat (Pasien). Misalnya kebiasaan hidup sehari – hari, seperti
tidur, makan, kebersihan diri, pekerjaan, pergaulan sosial, praktik
kesehatan,ekspresi perasaan, hubungan kekeluargaaan, peranan masing – masing
orang menurut umur.
Keamanan adalah kondisi bebas dari cedera fisik dan
psikologis (Potter & Perry, 2006). Keselamatan adalah suatu keadaan
seseorang atau lebih yang terhindar dari ancaman bahaya/kecelakaan, yang
merupakan kebutuhan dasar manusia yang harus di penuhi.
Lingkungan klien mencakup semua faktor fisik dan
psikososial yang mempengaruhi atau berakibat terhadap kehidupan dan
kelangsungan hidup klien. Keamanan dalam lingkungan diperlukan untuk mengurangi
insiden terjadinya penyakit dan cedera, memperpendek lamanya tindakan dan
hospitalisasi, meningkatkan atau mempertahankan status gizi klien, meningkatkan
kesejahteraan klien dan juga memberikan rasa aman kepada staff sehingga kerja
mereka menjadi optimal.
1. Suhu
Suhu lingkungan yang nyaman bagi individu sangat
bervariasi, tetapi individu biasanya nyaman pada suhu antara 18,3-23,9 C.
Pemaparan terhadap udara yang sangat dingin dalam waktu lama menyebabkan radang
dingin (fosbite) dan hipotermia. Pemaparan terhadap panas yang eksterm akan menyebabkan
headstroke (sengatan terik mtahari) atau heat exhaustion. Heat exhaustion
menyababkan diaforesis yang berlebihan, hipotensi, perubahan status mental kejang otot, dan mual. Sedangkan
headsroke adalah kondisi yang mengancam kehidupan dengan perubahan status
mental yang berat.
2. Bahaya Fisik
Bahaya fisik yang ada dalam komunitas dan tempat
pelayanan kesehatan mengakibatkan cedera pada pasien. Banyak bahaya fisik,
khususnya yang mengakibatkan jatuh, dapat diminimalkan melalui pencahayaan yang
adekuat, pengurangan penghalang fisik, pengontrolan bahaya yang mungkinkan, dan
tindakan pengamanan di kamar.
3. Pengontrolan polusi
Lingkungan
yang sehat adalah lingkungan yang bebas dari polusi. Polutan adalah zat kimia
atau sampah material yang berbahaya yang dibuang kedalam air,tanah atau udara.
Pada umumnya manusia hanya berfikir jenis polusi itu hanyalah polusi
udara, air ataupun tanah. Padahal ada juga polusi yang menimbulkan resiko
tarhadap kesehatan.
4. Oksigen
Perawat harus menyadari berbagai faktor yang ada di
lingkungan yang dapat menurunkan jumlah oksigen yang tersedia. Bahaya umum yang
ditemukan di rumah sakit adalah sistem pemanasan yang tidak berfungsi dengan
baik. Pembakaran yang tidak sempurna menyebabkan penumpukan karbon monoksida di
dalam ruangan. Karbon monoksida adalah gas beracun yang tidak berbau dan tidah
berwarna yang di hasilkan dari pembakarsnkarbon atau bahan bakar organik.
Karbon monoksida berikatan kuat dengan oksigen, sehingga
mencegah terbentuknya oksihemoglobin dan akhirnya akan mengurangi persediaan
oksigen yang diberikan ke seluruh tubuh.
Konsep kenyamanan memiliki subjektivitas yang sama dengan
nyeri. Nyeri yang dirasakan oleh seseorang bisa berasal dari penyakit yang
diderita atau efek dari nyeri tersebut, yang dapat menyebabkan terganggunya
rasa nyaman.
Menurut International Association for Study of Pain
(IASP), nyeri adalah pengalaman dan emosional yang tidak menyenangkan
sehubungan dengan aktual dan potensial kerusakan jaringan atau digambarkan
seperti kerusakan.
a. Usia
Usia merupakan variabel penting yang
mempengaruhi nyeri, khususnya pada anak-anak dan lansia. Anak kecil mempunyai
kesulitan memahami nyeri dan prosedur yang dilakukan perawat yang menyebabkan
nyeri. Anak-anak juga mengalami kesulitan secara verbal dalam mengungkapkan dan
mengekspresikan nyeri. Sedangkan pasien yang berusia lanjut, memiliki resiko
tinggi mengalami situasi yang membuat mereka merasakan nyeri akibat adanya
komplikasi penyakit dan degeneratif.
b. Jenis kelamin
Beberapa kebudayaan yang mempengaruhi
jenis kelamin misalnya menganggap bahwa seorang anak laki-laki harus berani dan
tidak boleh menangis, sedangkan anak perempuan boleh menangis dalam situasi
yang sama. Namun secara umum, pria dan wanita tidak berbeda secara bermakna
dalam berespon terhadap nyeri.
c. Kebudayaan
Beberapa kebudayaan yakin bahwa
memperlihatkan nyeri adalah sesuatu yang alamiah. Kebudayaan lain cenderung
untuk melatih perilaku yang tertutup (introvert). Sosialisasi budaya
menentukan perilaku psikologis seseorang. Dengan demikian hal ini dapat
mempengaruhi pengeluaran fisiologis opial endogen sehingga terjadilah persepsi
nyeri.
d. Makna nyeri
Individu akan mempersepsikan nyeri
berbeda-beda apabila nyeri tersebut memberi kesan ancaman, suatu kehilangan,
hukuman dan tantangan. Makna nyeri mempengaruhi pengalaman nyeri dan cara
seseorang beradaptasi terhadap nyeri.
e. Ansietas
Ansietas seringkali meningkatkan
persepsi nyeri tetapi nyeri juga dapat menimbulkan suatu perasaan ansietas.
Apabila rasa cemas tidak mendapat perhatian dapat menimbulkan suatu masalah
penatalaksanaan nyeri yang serius.
f. Pengalaman
sebelumnya
Setiap individu belajar dari pengalaman
nyeri sebelumnya namun tidak selalu berarti bahwa individu tersebut akan
menerima nyeri dengan lebih mudah di masa datang.
g. Dukungan
keluarga dan sosial
Kehadiran orang-orang terdekat pasien
dan bagaimana sikap mereka terhadap pasien mempengaruhi respon nyeri. Pasien
dengan nyeri memerlukan dukungan, bantuan dan perlindungan walaupun nyeri tetap
dirasakan namun kehadiran orang yang dicintai akan meminimalkan kesepian dan
ketakutan.
Metode dan teknik yang dapat
dilakukan dalam mengatasi nyeri adalah sebagai berikut :
a. Teknik Distraksi
Yaitu mengalihkan perhatian pasien
dari rasa nyeri. Teknik distraksi menurut Mc.Capffery : 1980 meliputi :
1) Menyanyi berirama
2) Aktiv mendengarkan musik
3) Menonton televise
b.
Relaksasi
Yaitu teknik pelemasan otot sehingga
akan mengurangi ketegangan pada otot yang akan mengurangi rasa nyeri. Teknik
yang dilakukan berupa napas dalam secara teratur dengan cara menghirup udara
sebanyak mungkin melalui hidung dan dikeluarkan secara perlahan melalui mulut.
c. Akupuntur
suatu tehnik tusuk jarus yang
menggunakan jarum jarum kecil, panjang untuk menusuk bagian bagian tertentu
dalam tubuh untuk mengasilkan ketidakpekaan terhadap rasa nyeri
d. Hipnosis
Suatu tekhnik yang menghasilkan
suatu keadaan tidak sadarkan diri yang dicapai melalui gagasam gagasan yang
disampaikan oleh orang yang menghipnotisnya.
e. Anal Getik
Mengurangi persepsi nyeri seseorang
tentang rasa nyeri, terutama melalui daya kerja atau system saraf pusat dan
mengubah respon seseorang terhadap rasa tidak nyaman.
a. Efek perilaku
Pasien yang mengalami nyeri menunjukkan ekspresi wajah dan gerakan tubuh
yang khas dan mengalami kerusakan dalam interaksi sosial. Pasien seringkali
meringik, mengernyitkan
dahi, menggigit bibir, gelisah,imobilisasi, mengalami ketegangan otot,
melakukan gerakan melindungi bagian tubuh sampai dengan menghinndari percakapan,
menghindari kontak sosial dan hanya fokus pada aktivitas menghilangkan nyeri.
b. Pengaruh Pada
Aktivitas Sehari – hari
Pasien yang mengalami nyeri setiap hari kurang mampu berpartisipasi dalam
aktivitas rutin, seperti mengalami kesulitan dalam melakukan tindakan higiene
normal dan dapat menganggu aktivitas sosial dan hubungan seksual.
BAB
III
PENUTUP
Etika Keperawatan yaitu
norma yang dianut oleh perawat dalam bertingkah laku dengan klien, keluarga,
kolega atau tenaga kesehatan lainnya disuatu pelayanan kesehatan lainnya
disuatu pelayanan keperawatan yang bersifat profesional.
Tenaga
kesehatan dalam memberikan asuhan keperawatan senantiasa memberikan yang
terbaik sehingga anggota profesi selalu bersikap untuk meningkatkan mutu yang
lebih baik dalam memberikan pelayanan.
Keamanan adalah kondisi bebas dari cedera fisik dan
psikologis. Keselamatan yaitu suatu keadaan seseorang atau lebih
yang terhindar dari ancaman bahaya/kecelakaan, yang merupakan kebutuhan dasar
manusia yang harus di penuhi.
Konsep kenyamanan memiliki subjektivitas yang sama dengan
nyeri. Nyeri yang dirasakan oleh seseorang bisa berasal dari penyakit yang
diderita atau efek dari nyeri tersebut, yang dapat menyebabkan terganggunya
rasa nyaman.
Bagi penulis:
Sebaiknya
seorang perawat harus dapat memberikan asuhan keperawatan kepada pasien dengan
gangguan kebutuhan rasa aman dan nyaman dengan menggunakan standart operasional
prosedur.
Bagi pembaca:
Sebaiknya lebih
memahami dan menerapkan konsep kebutuhan rasa aman dan nyaman dalam kehidupan sehari-hari.
Priharjo, Robert, 2003,
Perawatan nyeri, Pemenuhan Aktifitas
Istirahat Pasien, Jakarta,.
Aziz Alimul Hidayat. 2004.
Pengantar Konsep Dasar Keperawatan. Jakarta : Salemba.
Soekidjo Notoatmodjo. 2007. Pendidikan Kesehatan dan Perilaku Manusia, Jakarta : Rineka
Cipta.
Meidiana Dwidiyanti. 2010. Aplikasi Model Konseptual Keperawatan, Semarang: Akper Depkes Semarang
Asmadi.2007.Konsep dasar Keperawatan.
Jakarta : EGC
Mohamad Elang, Kusnadi Engkus,
2013, Askep Pada Klien Dengan Gangguan
Kebutuhan Dasar Manusia, Garut.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar