Selasa, 22 Mei 2018

Rasa Aman dan Nyaman

MAKALAH

Memenuhi Kebutuhan Dasar Rasa Aman Dan Nyaman


Disusun Oleh:

Dicky Sukma Wijaya
KHGA17087
D-III Keperawatan


STIKes Karsa Husada Garut
2017/2018

KATA PENGANTAR


Dengan menyebut nama Allah SWT yang Maha Pengasih lagi Maha Panyayang, Kami panjatkan puja dan puji syukur atas kehadirat-Nya, yang telah melimpahkan rahmat, hidayah, dan inayah-Nya kepada kami, sehingga kami dapat menyelesaikan makalah ini tentang Rasa Aman dan Nyaman.
Makalah ilmiah ini telah kami susun dengan maksimal dan mendapatkan bantuan dari berbagai pihak sehingga dapat memperlancar pembuatan makalah ini. Untuk itu kami menyampaikan banyak terima kasih kepada semua pihak yang telah berkontribusi dalam pembuatan makalah ini.
Terlepas dari semua itu, Kami menyadari sepenuhnya bahwa masih ada kekurangan baik dari segi susunan kalimat maupun tata bahasanya. Oleh karena itu dengan tangan terbuka kami menerima segala saran dan kritik dari pembaca agar kami dapat memperbaiki makalah ilmiah ini.
Akhir kata kami berharap semoga makalah ilmiah tentang limbah dan manfaatnya untuk masyarakan ini dapat memberikan manfaat maupun inpirasi terhadap pembaca.



Garut, 20 Mei 2018


  ( Penyusun )





BAB I

PENDAHULUAN

Perkembangan pendidikan saat ini meningkat dengan pesat sebagai konsekuensi dari logis globalisasi. Perkembangan pendidikan keperawatan hendaknya tidak hanya berupa peningkatan kuantitas semata,namun harus di ikuti dengan peningkatan kualitas pendidikan. Dengan demikian akan di hasilkan perawat yang professional dan siap berkompotisi dengan tenaga kesehatan lain, baik di tingkat nasional atau internasonal.
Dalam memberikan pelayanan keperawatan kepada individu, keluarga, atau komunitas,perawat sangat memerlukan etika keperawatan. Karena itu,focus dari etika keperawatan di tujukan terhadap sifat manusia yang unik.
Perawat juga membutuhkan norma dan budaya dalam asuhan keperawatan pemenuhan kebutuhan rasa aman dan nyaman pada pasien.

1.      Apa pengertian etika keperawatan ?
2.      Apa saja prinsip-prinsip dalam etika keperawatn ?
3.      Apa Pengertian norma dan  budaya ?
4.      Apa saja macam-macam pemenuhan rasa aman ?
5.      Apa saja macam-macam pemenuhan rasa nyaman ?

1.      Mengetahui pengertian keperawatan.
2.      Mengetahui prinsip-prinsip dalam etika keperawatan.
3.      Mengetahui pengertian norma dan budaya.
4.      Mengetahui macam-macam pemenuhan rasa aman.
5.      Mengetahui macam-macam pemenuhan rasa nyaman.

BAB II

PEMBAHASAN

 Etika berasal dari bahasa Yunani Kuno, ’ethos’ yang berarti kebiasaan/adat istiadat, akhlak, watak, perasaan, sikap, dan cara berfikir.
Kata ’etika’ dalam Kamus besar Bahasa Indonesia mempunyai arti :
1.      Ilmu tentang apa yang baik dan apa yang buruk dan tentang hak dan kewajiban moral (akhlak);
2.      Kumpulan asas atau nilai yang berkenaan dengan akhlak;
3.      Nilai mengenai benar dan salah suatu golongan atau masyarakat.
Etika Keperawatan yaitu norma yang dianut oleh perawat dalam bertingkah laku dengan klien, keluarga, kolega atau tenaga kesehatan lainnya disuatu pelayanan kesehatan lainnya disuatu pelayanan keperawatan yang bersifat profesional.
B.     Prinsip-Prinsip Etika Keperawatan 
1. Otonomi (Autonomy/Self Determination)
               Prinsip otonomi didasarkan pada hak seseorang untuk membuat keputusan sendiri. Orang dewasa dianggap kompeten dan memiliki kekuatan membuat sendiri, memilih dan memiliki berbagai keputusan atau pilihan yang harus dihargai oleh orang lain. Prinsip otonomi merupakan bentuk respek terhadap seseorang, atau dipandang sebagai persetujuan tidak memaksa dan bertindak secara rasional. Otonomi merupakan hak kemandirian dan kebebasan individu yang menuntut pembedaan diri. Praktek profesional merefleksikan otonomi saat perawat menghargai hak-hak klien dalam membuat keputusan tentang perawatan dirinya.
2. Berbuat baik (Beneficience)
          Berbuat baik berarti hanya melakukan sesuatu yang baik. Prinsip ini berkaitan dengan kewajiban melakukan yang terbaik dan tidak merugikan orang lain.
           Tenaga kesehatan dalam memberikan asuhan keperawatan senantiasa memberikan yang terbaik sehingga anggota profesi selalu bersikap untuk meningkatkan mutu yang lebih baik dalam memberikan pelayanan.
3. Keadilan (Justice)
          Prinsip keadilan dibutuhkan untuk terapi yang sama dan adil terhadap orang lain yang menjunjung prinsip-prinsip moral, legal dan kemanusiaan. Nilai ini direfleksikan dalam prkatek profesional ketika perawat bekerja untuk terapi yang benar sesuai hukum, standar praktek dan keyakinan yang benar untuk memperoleh kualitas pelayanan kesehatan.
4. Tidak Merugikan (Nonmaleficience)
        Prinsip ini berarti tidak menimbulkan bahaya/cedera fisik dan psikologis pada klien. Mengerjakan sesuatu dengan teliti, hati-hati, cermat, dan tidak sembarangan.
5. Jujur (Veracity/Truth Telling)
               Prinsip ini berkaitan dengan kewajiban untuk menyampaikan atau mengatakan sesuatu yang benar, tidak berbohong apalagi menipu. Perawat menerapkan prinsip ini selalu berbicara benar, terbuka dan dapat dipercaya.
6. Komitment (Fedelity/Keeping Promise)
              Prinsip ini berkaitan dengan kewajiban untuk setia, loyal dengan kesepakatan atau tanggung jawab yang diemban. Perawat akan bertanggungjawab sungguh-sungguh terhadap tugas yang diembannya.
Norma adalah aturan-aturan atau pedoman sosial yang khusus mengenai tingkah laku, sikap, perbuatan yang boleh dilakukan atau tidak boleh dilakukan di lingkungan kehidupannya.
Budaya adalah suatu cara hidup yang berkembang, dan dimiliki bersama oleh sebuah kelompok orang, dan diwariskan dari generasi ke generasi. Budaya terbentuk dari banyak unsur yang rumit, termasuk sistem agama dan politik, adat istiadat, bahasa, perkakas, pakaian, bangunan, dan karya seni.
Budaya mempunyai pengaruh luas terhadap kehidupan individu . Oleh sebab itu , penting bagi perawat mengenal latar belakang budaya orang yang dirawat (Pasien). Misalnya kebiasaan hidup sehari – hari, seperti tidur, makan, kebersihan diri, pekerjaan, pergaulan sosial, praktik kesehatan,ekspresi perasaan, hubungan kekeluargaaan, peranan masing – masing orang menurut umur.
Keamanan adalah kondisi bebas dari cedera fisik dan psikologis (Potter & Perry, 2006). Keselamatan adalah suatu keadaan seseorang atau lebih yang terhindar dari ancaman bahaya/kecelakaan, yang merupakan kebutuhan dasar manusia yang harus di penuhi.
Lingkungan klien mencakup semua faktor fisik dan psikososial yang mempengaruhi atau berakibat terhadap kehidupan dan kelangsungan hidup klien. Keamanan dalam lingkungan diperlukan untuk mengurangi insiden terjadinya penyakit dan cedera, memperpendek lamanya tindakan dan hospitalisasi, meningkatkan atau mempertahankan status gizi klien, meningkatkan kesejahteraan klien dan juga memberikan rasa aman kepada staff sehingga kerja mereka menjadi optimal.
1.      Suhu
Suhu lingkungan yang nyaman bagi individu sangat bervariasi, tetapi individu biasanya nyaman pada suhu antara 18,3-23,9 C. Pemaparan terhadap udara yang sangat dingin dalam waktu lama menyebabkan radang dingin (fosbite) dan hipotermia. Pemaparan terhadap panas yang eksterm akan menyebabkan headstroke (sengatan terik mtahari) atau heat exhaustion. Heat exhaustion menyababkan diaforesis yang berlebihan, hipotensi, perubahan status mental kejang otot, dan mual. Sedangkan headsroke adalah kondisi yang mengancam kehidupan dengan perubahan status mental yang berat.
2.      Bahaya Fisik
Bahaya fisik yang ada dalam komunitas dan tempat pelayanan kesehatan mengakibatkan cedera pada pasien. Banyak bahaya fisik, khususnya yang mengakibatkan jatuh, dapat diminimalkan melalui pencahayaan yang adekuat, pengurangan penghalang fisik, pengontrolan bahaya yang mungkinkan, dan tindakan pengamanan di kamar.
3.      Pengontrolan polusi
Lingkungan yang sehat adalah lingkungan yang bebas dari polusi. Polutan adalah zat kimia atau sampah material yang berbahaya yang dibuang kedalam air,tanah atau udara. Pada umumnya manusia hanya berfikir  jenis polusi itu hanyalah polusi udara, air ataupun tanah. Padahal ada juga polusi yang menimbulkan resiko tarhadap kesehatan.
4.      Oksigen
Perawat harus menyadari berbagai faktor yang ada di lingkungan yang dapat menurunkan jumlah oksigen yang tersedia. Bahaya umum yang ditemukan di rumah sakit adalah sistem pemanasan yang tidak berfungsi dengan baik. Pembakaran yang tidak sempurna menyebabkan penumpukan karbon monoksida di dalam ruangan. Karbon monoksida adalah gas beracun yang tidak berbau dan tidah berwarna yang di hasilkan dari pembakarsnkarbon atau bahan bakar organik. Karbon monoksida berikatan kuat dengan oksigen, sehingga mencegah terbentuknya oksihemoglobin dan akhirnya akan mengurangi persediaan oksigen yang diberikan ke seluruh tubuh. 
Konsep kenyamanan memiliki subjektivitas yang sama dengan nyeri. Nyeri yang dirasakan oleh seseorang bisa berasal dari penyakit yang diderita atau efek dari nyeri tersebut, yang dapat menyebabkan terganggunya rasa nyaman.
 Menurut International Association for Study of Pain (IASP), nyeri adalah pengalaman dan emosional yang tidak menyenangkan sehubungan dengan aktual dan potensial kerusakan jaringan atau digambarkan seperti kerusakan.

a.       Usia
Usia merupakan variabel penting yang mempengaruhi nyeri, khususnya pada anak-anak dan lansia. Anak kecil mempunyai kesulitan memahami nyeri dan prosedur yang dilakukan perawat yang menyebabkan nyeri. Anak-anak juga mengalami kesulitan secara verbal dalam mengungkapkan dan mengekspresikan nyeri. Sedangkan pasien yang berusia lanjut, memiliki resiko tinggi mengalami situasi yang membuat mereka merasakan nyeri akibat adanya komplikasi penyakit dan degeneratif.
b.      Jenis kelamin
Beberapa kebudayaan yang mempengaruhi jenis kelamin misalnya menganggap bahwa seorang anak laki-laki harus berani dan tidak boleh menangis, sedangkan anak perempuan boleh menangis dalam situasi yang sama. Namun secara umum, pria dan wanita tidak berbeda secara bermakna dalam berespon terhadap nyeri.
c.       Kebudayaan
Beberapa kebudayaan yakin bahwa memperlihatkan nyeri adalah sesuatu yang alamiah. Kebudayaan lain cenderung untuk melatih perilaku yang tertutup (introvert). Sosialisasi budaya menentukan perilaku psikologis seseorang. Dengan demikian hal ini dapat mempengaruhi pengeluaran fisiologis opial endogen sehingga terjadilah persepsi nyeri.
d.      Makna nyeri
Individu akan mempersepsikan nyeri berbeda-beda apabila nyeri tersebut memberi kesan ancaman, suatu kehilangan, hukuman dan tantangan. Makna nyeri mempengaruhi pengalaman nyeri dan cara seseorang beradaptasi terhadap nyeri.
e.       Ansietas
Ansietas seringkali meningkatkan persepsi nyeri tetapi nyeri juga dapat menimbulkan suatu perasaan ansietas. Apabila rasa cemas tidak mendapat perhatian dapat menimbulkan suatu masalah penatalaksanaan nyeri yang serius.
f.       Pengalaman sebelumnya
Setiap individu belajar dari pengalaman nyeri sebelumnya namun tidak selalu berarti bahwa individu tersebut akan menerima nyeri dengan lebih mudah di masa datang.
g.      Dukungan keluarga dan sosial
Kehadiran orang-orang terdekat pasien dan bagaimana sikap mereka terhadap pasien mempengaruhi respon nyeri. Pasien dengan nyeri memerlukan dukungan, bantuan dan perlindungan walaupun nyeri tetap dirasakan namun kehadiran orang yang dicintai akan meminimalkan kesepian dan ketakutan.
Metode dan teknik yang dapat dilakukan dalam mengatasi nyeri adalah sebagai berikut :
a.       Teknik Distraksi
Yaitu mengalihkan perhatian pasien dari rasa nyeri. Teknik distraksi menurut Mc.Capffery : 1980 meliputi :
1)      Menyanyi berirama
2)      Aktiv mendengarkan musik
3)      Menonton televise
b.      Relaksasi
Yaitu teknik pelemasan otot sehingga akan mengurangi ketegangan pada otot yang akan mengurangi rasa nyeri. Teknik yang dilakukan berupa napas dalam secara teratur dengan cara menghirup udara sebanyak mungkin melalui hidung dan dikeluarkan secara perlahan melalui mulut.
c.       Akupuntur
suatu tehnik tusuk jarus yang menggunakan jarum jarum kecil, panjang untuk menusuk bagian bagian tertentu dalam tubuh untuk mengasilkan ketidakpekaan terhadap rasa nyeri
d.      Hipnosis
Suatu tekhnik yang menghasilkan suatu keadaan tidak sadarkan diri yang dicapai melalui gagasam gagasan yang disampaikan oleh orang yang menghipnotisnya.
e.       Anal Getik
Mengurangi persepsi nyeri seseorang tentang rasa nyeri, terutama melalui daya kerja atau system saraf pusat dan mengubah respon seseorang terhadap rasa tidak nyaman.
a.       Efek perilaku
Pasien yang mengalami nyeri menunjukkan ekspresi wajah dan gerakan tubuh yang khas dan mengalami kerusakan dalam interaksi sosial. Pasien seringkali meringik, mengernyitkan dahi, menggigit bibir, gelisah,imobilisasi, mengalami ketegangan otot, melakukan gerakan melindungi bagian tubuh sampai dengan menghinndari percakapan, menghindari kontak sosial dan hanya fokus pada aktivitas menghilangkan nyeri.
b.      Pengaruh Pada Aktivitas Sehari – hari
Pasien yang mengalami nyeri setiap hari kurang mampu berpartisipasi dalam aktivitas rutin, seperti mengalami kesulitan dalam melakukan tindakan higiene normal dan dapat menganggu aktivitas sosial dan hubungan seksual.



BAB III

PENUTUP

Etika Keperawatan yaitu norma yang dianut oleh perawat dalam bertingkah laku dengan klien, keluarga, kolega atau tenaga kesehatan lainnya disuatu pelayanan kesehatan lainnya disuatu pelayanan keperawatan yang bersifat profesional.
Tenaga kesehatan dalam memberikan asuhan keperawatan senantiasa memberikan yang terbaik sehingga anggota profesi selalu bersikap untuk meningkatkan mutu yang lebih baik dalam memberikan pelayanan.
Keamanan adalah kondisi bebas dari cedera fisik dan psikologis. Keselamatan yaitu suatu keadaan seseorang atau lebih yang terhindar dari ancaman bahaya/kecelakaan, yang merupakan kebutuhan dasar manusia yang harus di penuhi.
Konsep kenyamanan memiliki subjektivitas yang sama dengan nyeri. Nyeri yang dirasakan oleh seseorang bisa berasal dari penyakit yang diderita atau efek dari nyeri tersebut, yang dapat menyebabkan terganggunya rasa nyaman.

Bagi penulis:
Sebaiknya seorang perawat harus dapat memberikan asuhan keperawatan kepada pasien dengan gangguan kebutuhan rasa aman dan nyaman dengan menggunakan standart operasional prosedur.
Bagi pembaca:
Sebaiknya lebih memahami dan menerapkan konsep kebutuhan rasa aman dan nyaman dalam kehidupan sehari-hari.



Priharjo, Robert, 2003, Perawatan nyeri, Pemenuhan Aktifitas Istirahat Pasien, Jakarta,.
Aziz Alimul Hidayat. 2004. Pengantar Konsep Dasar Keperawatan. Jakarta : Salemba.
Soekidjo Notoatmodjo. 2007. Pendidikan Kesehatan dan Perilaku Manusia, Jakarta : Rineka Cipta.
Meidiana Dwidiyanti. 2010. Aplikasi Model Konseptual Keperawatan, Semarang: Akper Depkes Semarang
Asmadi.2007.Konsep dasar Keperawatan. Jakarta : EGC
Mohamad Elang, Kusnadi Engkus, 2013, Askep Pada Klien Dengan Gangguan Kebutuhan Dasar Manusia, Garut.




Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Makalah Hak Asasi Manusia

KATA PENGANTAR Dengan menyebut nama Allah SWT yang Maha Pengasih lagi Maha Panyayang, Kami panjatkan puja dan puji syukur atas keha...